Kamis, 29 Maret 2012

Alhamdulillah Papan Reklame Itu Sudah Tidak Ada


Merokok dapat menyebabkan kangker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin. Rupanya peringatan pada bungkus rokok itu belum cukup ampuh untuk menurunkan jumlah perokok di Indonesia yang menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) menempati urutan terbesar ketiga di dunia. Astaghfirullah. Bahkan berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas),  di tahun 2006 aja pengeluaran uang belanja keluarga miskin (gakin) Kota Bogor, untuk membeli rokok setahun mencapai Rp 20 miliar. Subhaanallah. Gak cukup merusak kesehatan, tapi juga merusak pendapatan bahkan anak-anakpun ada yang sampe kecanduan (hingga 40 batang sehari), na’udzuubillah min dzaalik.
Kembali aku harus memacu laju thunderku menuju Widya Chandra via Ampera mengejar detik demi detik finger print pagi.  Sampai di kawasan Kemang,  aku ancang-ancang konsentrasi latihan menundukkan pandangan. Disitu banyak terpampang iklan beraneka ragam, diantaranya adalah iklan rokok E**e. Tidak mudah memang, tapi namanya juga latihan Ghaddul Bashor, perlu sedikit konsentrasi. Lengah dikit, gubraak kelihatan deh iklan rokok E**e itu. Nyampe deket sekolahan Al Azhar, kaget banget….. billboard aduhai itu sudah gak ada. Bukan diganti, tapi dicopot so tinggal tiangnya doang berdiri tegak di sepanjang jalan. Ya Allah, terimakasih dan Alhamdulillah banget atas karuniaMu. Papan reklame itu telah undur diri dari pemandangan para pengguna jalan Kemang. Iklan itu gak sesuai dengan kepribadian masyarakat Indonesia yang religius dan berketuhanan Yang Maha Esa. Semoga billboard penggantinya nanti lebih sopan dan lebih menutup aurat.
Yaa Allah maafkanlah diriku, aku tidak mampu beramar ma’ruf nahi munkar sebagaimana yang telah Engkau perintahkan. Semoga ungkapan syukurku ini menunjukkan bahwa aku cinta kebaikan dan benci kebathilan wa dzaalika adl’aful iimaan.

Rabu, 14 Maret 2012

Alhamdulillah Aku Tidak Terlambat


Pagi itu, aku melaju ke kantor dengan motorku, suzuki thunder 2005. Rupanya rantai motorku sdh tak tahan membawaku melaju. Rantai terlepas dari girnya, Aku terseok dan harus rela mendorongnya sampai ke tukang tambal ban di jalan margonda, barangkali dia bisa membantu mengaitkannya kembali. Ternyata dia tak sanggup mengobati keletihan rantaiku. Aku pun bergegas mendorongnya ke stasiun Pondok Cina. Alhamdulillah di dompetku masih tersisa uang 10 ribu. Tiket express akhirnya bisa terbeli, dan tinggal seribu..ah gampang nanti ke atm sudirman kukais sisa2 rekeningku yg faktanya memang tidak gendut.
Alhamdulillah, di stasiun Pondok Cina aku bertemu dengan sahabatku yang baik hati, temen di kantor dulu, sekarang sdh pindah ke lto. Menyarankan aku untuk naik express manggarai terus nyambung naik 66 dan nyambung lagi 640. Alhmdulillah ternyata aku tak puas dengan nasihatnya yang berharga, aku pun meminta goceng padanya,…coz uangku tinggal sarebu,….he he he. Alhamdulillah, dia kasih goceng + senyumannya yang khas .

Sampailah di stasiun manggarai. Akupun melompat dan berlari menyeberangi rel manggarai menuju terminal bus. Beruntung ada kopaja 66 yg sudah siap menyambutku. Aku sempatkan berinfaq seribu, ..”Ya Allah sampaikanlah pahala infaqku ini untuk sahabatku tadi”. Terbengong diriku menunggu lampu merah yang cukup lama. Aku baru tersadar , …jangan2 ini perempatan gatsu. Aku segera berlari melewati puluhan kenderaan yang lagi macet. “Bu Polwan, itu jalan gatot subroto ya ?” tanyaku lugu banget kayak orang udik. Aku bergegas menyeberang dan siap menerjang bus kota pertama arah komdak.
Gayus, gayus, gayus….kesel juga sang kenek 640 menyebut kantorku seperti itu (semoga Allah SWT memberi hidayah kepada sang kenek dan juga gayus dan menjauhkan negeri ini dari permainan para koruptor dan mafia kejahatan). Aku belum ingin turun, masih jauh dari pintu gerbang kantorku. Ternyata 640 tidak mau berhenti di depan gerbang kantorku,…ya Allah,…pagi yang sangat dinamis. Sprint dari komdak mengejar detik2 absensiku. Tersengal nafasku dan,…alhamdulillah 7.26 berhasil ketempelkan jari telunjukku dan “..you are authorized”.
Kipas-kipas keringat bercucuran, merasakan nikmat yang telah diberikan. Ya Allah ku bersyukur kepadaMu atas banyak nikmat yang tiada dapat ku menghitungnya. Saat jariku menuangkan coretan ini, alhamdulillah pak korlak menyapaku dari belakang, mas ada kelebihan iuran ke ciater hari ahad kemarin. Sekali lagi Alhamdulillah.

Selasa, 13 Maret 2012

Bukan sekedar tempat berkesudahan yang terpaksa


Akhirat,  kampung tempat segalanya berkesudahan. Mengakhiri jalan panjangnya. Rumah penghabisan, tempat segala hiruk pikuk dunia ditimbang, lalu ditunaikan hak orang-orang yang punya hak. Serta diambilkan bayaran kekurangan orang-orang yang berbuat curang.
Nun di sana, kita akan bersua. Seperti air sungai yang mengalir berliku, kesana pula bermuara pada akhirnya. Tetapi akhirat bukan sekadar tempat berkesudahan yang terpaksa. Atau tempat pembuangan segala isi alam semesta. Ya, pada ketetapan Allah, taqdir dan kuasa-Nya, tak ada yang bisa lari dari akhirat. Tapi bagi orang-orang beriman akhirat adalah juga tempat menggantungkan cita-cita, harapan, dan puncak kebahagiaan abadi. Lain halnya bagi orang-orang yang bergelimang dosa, akhirat adalah tempat perhempasan yang menyakitkan. Seperti onggokan sampah yang tak kuasa terbawa arus  dan terus melaju. Di sana pula sampah itu mengalir. Lalu terhenti seketika. Menebus segala kotorannya. Dengan cara yang sangat mengerikan. Ia mungkin dahulu mengatakan, seperti yang diabadikan Al-Qur’an, "Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan. " (QS. Al-An’am: 29).
Maka manusia sampah punya akhirannya sendiri di kampung akhirat sana. Akhiran sebagai sampah, atau bahkan lebih nista dari sampah. Suasananya sangat mengharukan. "Dan, jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, ‘Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman,’ tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan." (Al-An’am: 27).